Selasa, 31 Oktober 2017

Candi Sambisari: Tetap Mempesona Setelah Berabad-Abad Tertimbun

Candi Sambisari at a glance
Artikel oleh : Suzash Gribisy

Sempat tidur dan terkubur selama berabad-abad di  dalam tanah, candi yang satu ini ditemukan kembali oleh salah seorang petani bernama Bapak Karyowinangun pada suatu pagi di tahun 1966. Pada pagi itu, beliau tengah mencangkul sawahnya, namun mata cangkulnya membentur bongkahan batu dengan pahatan di permukaannya. Setelah kejadian itu diteliti, Dinas Kepurbakalaan menyimpulkan bahwa batu tersebut merupakan komponen candi. Beberapa waktu kemudian, dilakukanlah penggalian lanjutan atau ekskavasi. Oleh karena itu, bila dilihat, candi ini terletak lebih rendah dari permukaan tanah. Namanya Candi Sambisari; candi yang tetap mempesona walau sudah tertimbun ratusan tahun di dalam tanah. Kini, Candi Sambisari menjadi salah satu destinasi liburan ke Jogja.

Sejarah Candi Sambisari
                Para pakar mengatakan, bahwa sejarah pendirian candi ini belum dapat diketahui secara pasti karena kurangnya bukti yang konkret. Akan tetapi, apabila dilihat dari struktur dan arsitektur bangunan candi, diperkirakan candi ini dibangun sekitar tahun 812—813 M. Candi ini ternyata satu periode dengan Candi Prambanan, Candi Plaosan,dan Candi Sojiwan lho, guys! Ternyata mereka berteman. J
                Perlu waktu lebih dari sewindu—bukan lagunya Tulus, ya—untuk melakukan proses eskavasi hingga rekonstruksi bangunan. Semua proses itu menghabiskan waktu hampir tiga windu, dari tahun 1966 ketika ditemukan hingga selesai dipugar pada tahun 1987. Letak dari candi ini pun cukup unik, guys. Candi Sambisari terletak kira-kira 6.5 meter lebih rendah dari permukaan tanah. Oleh karena itu, ketika liburan ke Jogja dan mengunjungi situs ini, kamu harus menuruni anak-anak tangga ketika hendak memasuki kompleks candi.


Salah satu sudut dari komplek Candi Sambisari

Letak dan Serba-Serbi Candi
                Kompleks candi Sambisari terdiri dari satu buah candi induk dan tiga buah candi perwara. Kaki candi tampak polos tanpa hiasan. Namun,  bagian luar dinding langkah dihiasi seretan pahatan bermotif bunga dan sulur-suluran yang sangat halus pahatannya. Tangga candi dilengkapi dengan pipi yang dihiasi pahatan sepasang kepala naga dengan mulut menganga. Batu yang tedapat di bawah masing-masing kepala naga dihiasi pahatan berupa gana dalam posisi berjongkok dengan kedua tangan diangkat, seolah menyangga kepala naga yang ada di atasnya. Gana, atau dapat juga disebut Syiwaduta adalah makhluk pengiring Syiwa. Oleh karena itu, bisa kita tahu bahwa Candi Sambisari adalah candi yang bercorak Hindu beraliran Syiwa. Pahatan Gana juga sering ditemui di pintu masuk candi-candi besar di kompleks candi Prambanan; yang juga merupakan candi bercorak Hindu.

So, Explore and Amazed!
                Tidak ada alasan untuk kamu tidak explore Candi Sambisari. Candi ini berjarak kira-kira lima belas kilometer dari pusat kota Yogyakarta, tepatnya di Desa Sambisari, Purwomartani, Kalasan. Selain keunikan tata letaknya yang lebih rendah dari permukaan bumi, candi juga ini mirip sebuah kastil yang dikelilingi oleh taman rumput nan hijau. Bak bermain di taman istana kerajaan deh, pokoknya!

Soto Bathok yang yummy!

                Nah, setelah main-main dan hunting foto di area Candi Sambisari, kamu dapat mampir wisata kuliner di warung Soto Bathok Mbah Katro yang merupakan salah satu soto yang top banget di Jogja. Selain murah, Soto Bathok Mbah Katro ini juga unik karena dihidangkan langsung dengan mangkok bathok kelapa. Suasana warungnya pun khas pedesaan. Kita bisa menikmati hidangan soto bathok dengan tempe goreng sambil menikmati hamparan sawah yang hijau dan luas, bikin liburan ke Jogja kamu makin berkesan Jogja banget!

                Kamu belum pernah mengunjungi Candi Sambisari dan menikmati Soto Bathok Mbah Katro? Wah, segerakan dong, guys. Tenang saja kalau kamu tidak tahu menahu soal Jogja dan penasaran sekali ingin menikmati kedua perpaduan menarik tersebut, Travel Mates siap mengantarkan dan menemani kamu untuk liburan ke Jogja. Gaspol, yuk!

NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner