Senin, 19 Februari 2018

Warung Jamu Ginggang Pakualaman: Yang Senantiasa Kuat Ditempa Arus Waktu

(illustrasi penyajian Jamu)
Oleh : Fitria Yusrifa
Bangunan bercat cokelat muda itu tidak banyak dikunjungi orang. Hanya ada beberapa toples berisi bungkusan jamu tradisional bubuk yang menjadi penghuni etalase tua. Beberapa potret kuno tampak mendominasi dinding-dinding ruangan yang telah beranjak dari usia dewasa. Tertulis di salah satu potret tepat di sudut toko ‘Jamu Ginggang since 1950’. Menandakan betapa kuatnya bangunan ini menahan laju pusaran sejarah. Meski pada kenyataannya, embrio toko jamu ini sudah ada sejak 1930-an, namun konsep toko jamu yang lebih modern baru hadir di tahun 50-an.

Berjarak tak jauh dari Pura Pakualaman, toko jamu legendaris ini tampak tidak berbeda dengan beberapa bangunan di sebelah-sebelahnya. Hanya saja, aroma rempah begitu kuat mengisi spasi-spasi di ruangan toko tua ini. Bangku-bangku tua, juga meja di toko ini membuat suasana tradisional kental terasa. Sekalipun terletak di jantung kota Yogyakarta, toko jamu legendaris ini tetap menghadirkan romansa yang hening dan menenangkan.

Satu dua kendaraan bermotor lalu lalang di jalanan yang membujur tepat di bagian muka toko. Area parkir tidak terlalu luas, namun pejalan kaki bisa menjadi sangat mengakrabi diri dengan melangkah ke setiap senti teras toko. Gelak tawa anak-anak terdengar, memberikan nyawa tambahan bagi toko jamu tradisional kebanggaan keluarga besar Pakualaman ini.


Warung Jamu Ginggang mulai berdiri sejak jaman Sri Pakualaman ke VI yaitu sekitar tahun 1930. Sebelumnya, Mbah Joyo sebagai pendiri warung jamu ini merupakan seorang abdi dalem (pelayan) Pura Pakualaman Yogyakarta. Mbah Joyo berperan sebagai tabib kerajaan. Setelah ia berhasil meramu beberapa jenis jamu sebagai obat tradisional yang berkhasiat, Sri Pakualam kemudian menyarankan Mbah Joyo untuk membuka warung jamu yang bernama Tan Ginggang.

Ginggang merupakan sebuah istilah dalam bahasa Jawa yang berarti renggang dan merupakan sebuah cuplikan dari peribahasa Jawa yaitu "datan ginggang sarikma" artinya tidak renggang walaupun hanya berjarak sehelai rambut. Bisa diartikan dengan jamu ini hubungan yang renggang atau agak jauh bisa direkatkan. Selain itu hubungan yang terjalin antara keraton Pakualaman dan warga masyarakat sekitar keraton juga senantiasa rukun tanpa ada jarak sosial. Penyakit yang bersarang dalam tubuh pun akan segera menjauh dengan jamu ini. Filosofi ilmu jamu jawa ini tentu menjadi salah satu pertimbangan tentang perlunya berkunjung ke toko jamu di kawasan Pakualaman ini.



Segelas beras kencur dan kunyit asem menjadi salah satu menu yang kebanyakan dipesan. Tampaknya pemilik toko mulai belajar memoles menu yang ditawarkan kepada para pembeli. Harganya cukup terjangkau, cukup dengan Rp.5.000,00-Rp.7.500,00 pengunjung sudah bisa mengadopsi nuansa kuliner jawa kuno ke serat-serat lidah. Selain beras kencur dan kunyit asam, pengunjung juga bisa menikmati galian singset bagi yang ingin menguruskan badan dan ramuan cabai puyang bagi yang ingin menggemukkan badan selama berlibur di Yogyakarta.


Bagian paling menarik dari toko jamu ini adalah pengunjung dapat belajar banyak hal mengenai pengolahan jamu dan proses-proses meracik aneka ramuan berkhasiat. Namun, pengunjung harus memberitahu pengelola jauh-jauh hari, karena dibutuhkan persiapan yang matang. Bagi pengunjung yang tertarik dengan budaya jawa tentu tak ingin melewatkan kesempatan menarik ini, bukan?

Semua sajian ini hanya bisa didapatkan di toko jamu tradisional Ginggang, yang terletak di Jalan Masjid no.32, Pakualaman, Yogyakarta. Harum aroma rempah tentu menjadi pelipur lara setelah berlelah-lelahan menapaki setiap senti dari kota budaya ini. Selain itu, sejuknya jantung Pakualaman dan keramahan masyarakat Jogja juga bisa menjadi alasan wisatawan untuk berkunjung ke warung jamu yang telah berusia separuh abad lebih ini. Kalau sedang berlibur ke Jogja, coba kunjungi tempat yang satu ini ya.

NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner