Senin, 26 Maret 2018

Semburat Senja di Langit-langit Candi Sewu



Oleh : Fitria Yusrifa

Binar-binar jingga nampak menghiasi langit Yogyakarta menjelang malam tiba. Matahari masih memancarkan pesonanya seiring dengan bayang-bayang manusia yang berpindah ke barat.  Jalanan yang membelah lapangan hijau di kawasan wisata Candi Prambanan tampak lengang, disirami cahaya mentari yang mulai meredup. Ratusan bongkah batu andesit yang akan melengkapi puing-puing candi berjejer di tepian, memberi kesan ramai dalam suasana magis menjelang senja itu. Candi Sewu, demikian susunan andesit-andesit kokoh ini diberi nama. Sekalipun hanya berjumlah 249 buah candi, masyarakat lokal tampaknya belum mampu memisahkan legenda seribu (sewu) candi dalam lakon Roro Jonggrang dan Bandung Bandawasa dengan keberadaan candi ini. Tidak sulit menemukan ratusan candi ini, karena berada delapan ratus meter dari Candi Prambanan di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah atau tepatnya di perbatasan provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta.

 Bentuk candi yang memiliki stupa menandakan bahwa peninggalan Buddha (TM red.)

Meski berada satu kompleks dengan Candi Prambanan yang notabene-nya merupakan ikon wisata Jawa Tengah dan Yogyakarta, Candi Sewu tetap tidak kehilangan pesona. Candi Buddha yang memiliki nama asli Prasada Vajrajasana Manjusrigrha ini dibangun pada abad ke-8 Masehi, tepatnya di bawah kekuasaan Rakai Panangkaran (746-784 Masehi). Prasada berarti candi atau kuil, sementara Vajrajasana bermakna ‘tempat wajra (intan atau halilintar) bertakhta)’. Sedangkan Manjusri-grha bermakna ‘rumah Manjusri’. Manjusri merupakan salah satu Boddhisatwa dalam ajaran Buddha. Nah, Candi Sewu merupakan kompleks candi Buddha terbesar kedua setelah Candi Borobudur di Jawa Tengah dan berusia lebih tua dibandingkan Candi Borobudur dan Prambanan.

Kerukunan umat beragama sangat kental terasa di kompleks candi ini. Berdampingan dengan Candi Prambanan yang bercorak hindu, memberi gambaran yang jelas tentang toleransi antar umat pada masa itu. Kompleks Candi Sewu tampaknya dipugar dan diperluas pada masa pemerintahan Rakai Pikatan, seorang pangeran dari dinasti Sanjaya yang beragama Hindu. Pada masa itu, agama Hindu dan Buddha memang hidup berdampingan secara harmonis. Karena keagungannya ini, Candi Sewu digunakan sebagai Candi Buddha Kerajaan sekaligus pusat kegiatan agama Buddha yang cukup vital pada masa itu. Wisatawan akan merasakan kedamaian saat mengunjungi candi ini, terlebih ketika bertemu pandang dengan langit senja Yogyakarta.

Saat memasuki kompleks Candi Sewu, pengunjung akan disambut sepasang arca Dwarapala berukuran tinggi sekitar 2,3 meter, tepat di pintu masuk. Pintu utama berada di sisi timur, menghadap matahari terbit, seperti halnya kompleks bangunan khas Jawa lainnya. 249 bangunan candi di kompleks Candi Sewu disusun membentuk mandala wajradhatu, yang merupakan perwujudan alam semesta dalam kosmologi Buddha Mahayana. Sebuah candi utama berada di poros tengah, utara-selatan dan timur-barat, menyerupai salib atau silang yang berdiameter 29 meter dan setinggi 30 meter. Selain itu, berdiri candi perwara (pengawal) kecil yang berjarak 200 meter satu sama lain, berisikan arca-arca Dhyani Buddha dan diperkirakan serupa dengan arca Buddha yang ada di Borobudur. Tepat di sudut, berdiri 8 candi penjuru, yang berukuran kedua terbesar setelah candi utama. Candi Penjuru ini berada di setiap penjuru mata angin, meski kini hanya candi penjuru kembar timur dan satu candi penjuru utara yang masih utuh.

 Candi Sewu dari ketinggian, luas juga ya kompleknya~

Mengelilingi kompleks Candi Sewu tak ubahnya seperti mengitari sebuah labirin raksasa yang berisikan warisan-warisan arkeologis. Berwisata ke tempat semagis ini tentu menimbulkan kesan dan debar tersendiri. Nah, untuk pembaca yang tertarik mengeksplorasi kompleks Candi Sewu dan menikmati senja bersama, Travel Mates siap menjadi kawan perjalanan untuk liburan yang super seru! Nggak usah sungkan, ragu, malu, isin-isin buat booking liburan bareng Travel Mates. Pulang ke rumah bawa cerita seru liburan di Yogyakarta!
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner